Hindari Psoriasis dengan Perbaiki Gaya Hidup
Hindari Psoriasis dengan Perbaiki Gaya Hidup
Penyakit kulit biasa dialami oleh siapa saja. Seringkali kita menemukan masalah kulit yang diakibatkan kelalaian kita menjaga kebersihan diri, seperti panu, kudis dan sebagainya.
Namun nyatanya, disamping itu masih ada penyakit kulit lain yang lebih dari sekedar berdampak terasa gatal dan kemerahan, yaitu Psoriasis. Penyakit kulit yang memang relatif tak dikenal ini bahkan dapat menurunkan kualitas hidup si penderitanya.
Psoriasis merupakan suatu jenis penyakit kulit kronik yang dapat menyerang semua gender, tak mengenal batasan usia, warna kulit serta bangsa. Bukan hanya masyarakat kalangan bawah saja, tapi orang-orang dengan tingkatan level menengah keatas juga dikatakan turut mengidap penyakit psoriasis.
Sebenarnya berapa jumlah pasien yang terserang psoriasis, sebuah lembaga non-profit. Yayasan Peduli Psoriasis Indonesia sempat mengeluarkan data, apabila dilihat di Indonesia, prevelans[ penderitanya terbilang cukup besar.
Dari seluruh populasi, antara 1 sampai 3% atau mencapai angka 2 hingga 6 juta orang mengidap psoriasis. Penyakit yang bisa timbul kapan saja ini sebetulnya jarang menyerang bayi, namun temyata penderita psoriasis termuda di Indonesia adalah seorang bayi yang baru berusia beberapa bulan saja. Sedangkan rata-rata, psoriasis diderita mereka yang berusia antara 20 dan 50 tahun.
Maria Poppy Her-lianty, seorang ahli gizi menyebutkan psoriasis sebagai penyakit autoimun atau sistem kekebalan yang menyerang tubuhnya sendiri.
Sebagian besar orang takkan pernah tahu kapan penyakit ini akan timbul. Berasal dari bahasa Yunani, yaitu Psora yang berarti gatal, wanita berkacamata ini juga mengatakan bahwa ketika psoriasis menyerang, banyak penderita tak mengetahui penyakit apa yang sedang diidapnya.
Tanda-tanda penyakit psoriasis antara lain, kulit disekujur tubuh muncul banyak bercak merah, terselimuti sisik tebal yang terasa kasar dan transparan layaknya tetesan lilin. "Psoriasis bisa berupa bercak merah, dilindungi oleh sisik tebal, kering, keperak-perakkan. Luka ini bervariasi dalam tingkat keparahan", ujar Maria saat ditemui dalam perayaan "Hari Psoriasis Dunia", beberapa waktu lalu di Club Golf House, Senayan, Jakarta.
Bukan hanya sekedar terdapat banyak bintik merah, penderita juga merasakan gatal gatal sekaligus perih. Psoriasis nantinya akan meninggalkan bekas mulai dari daerah siku, lutut, punggung, kulit kepala bahkan pada bokong. Kemudian saat kondisi kulit sangat kering, pada bagian tubuh yang terserang psoriasis akan menjadi sulit untuk dig-ak-kan.
Sebut saja, Rita yang kini berusia 56 tahun, pada kesempatan yang sama mengatakan, ia sudah sejak dari bangku Sekolah Dasar (SD) mengidap psoriasis. Gejala awalnya, pada kulit kepala timbul ketombe yang tak kunjung menghilang dan disusul dengan kulit merah merah.
Salah satu jenis kelainan kulit tersebut biasanya diturunkan secara genetik. Penelitian terbaru menyebutkan kalau psoriasis timbul terkait adanya gangguan imunitas. Kemudian gejala akan semakin bertambah karena pengaruh faktor lingkungan.
Selain faktor tersebut yang dapat mempengaruhi terjadinya psoriasis, diantaranya perubahan hormon, kehamilan, terjadi tekanan emosional serta iklim, dimana cuaca dingin memiliki kecenderungan untuk memperburuk psoriasis.
Gaya hidup modern nyatanya dikatakan Maria menjadi faktor terjadinya psoriasis. Salah satunya yang menonjol adalah pola makan dengan gizi tak seimbang.
Dampak Sosial
Meski tak menular, tentu tak ada seorang pun yang mau berada pada kondisi berpenyakit psoriasis. Tak jarang pula para penderita psoriasis yang menjadi hilang rasa percaya diri. Sehingga dalam berpakaian atau berkegiatan di luar rumah cenderung ditutupi. Disembu- nyikan dengan cara mengenakan baju lengan panjang disertai celana yang menutupi hampir seluruh kaki.
Merreka tak berani ke tempat yang membutuhkan pakaian minim, salah satunya berenang. Perihal penyakit yang residif (hilang-timbul) ini, ternyata menurut Erna Karim, seorang Sosiolog Kesehatan dari Fakultas. Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dari Universitas Indonesia, sering membuat depresi dan minder para penderitanya.
"Bagi mereka penyakit ini sangat mengganggu sehingga merasa malu dan enggan untuk melakukan berbagai aktivitas di luar rumah", kata wanita berjilbab ini.
Sebagai makhluk sosial dan spiritual, semua penderita psoriasis sebenarnya perlu sekali didukung agar rasa percaya diri tumbuh kembali. Peran keluarga sangat diperlukan sebagai pendamping dalam membentuk kembali kepribadian pasien.
Anggota keluarga dikatakan Erna, akan memancarkan energi serta menguatkan mental penderita.
Terkadang apabila kita mempunyai rekan atau teman dengan masalah yang sama akan memberikan dukungan tersendiri. Maka, komunitas antar sesama penderita psoriasis turut diperlukan, untuk bertukar pikiran sekaligus berbagi pengalaman. "Proses menuju kebahagian bagi para penderita psoriasis adalah dengan cara melakukan aktivitas fisik atau olahraga. Aktif membangun relasi melalui telepon genggam, internet dan sering mengadakan acara pertemuan seperti makan bersama dan yang sejenisnya dengan berbagai kelompok kecil", ungkap Erna yang memiliki kelompok Sosialisasi Hati tersebut.
Tak ada Obatnya?
Banyak penderita psoriasis yang tidak terdiagnosa dan tertangani secara medis karena kemiskinan dan ketidaktahuan mereka akan penyakit yang sedang diderita. Sekalipun pergi berobat ke puskesmas yang diyakini bisa mendiagnosa, namun temyata tak jua dapat di
Home »
» Hindari Psoriasis dengan Perbaiki Gaya Hidup, WPD 2009
0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !